Assalammualaykum Warrahmatullahi Wabarakaatuh
Teruntuk kamu, apa kabar di sana? Aku berdoa senantiasa dirimu dinaungi perlindungan dan diberikan kesehatan oleh Alloh Subhanahu Wa Taala.
Maaf agak lancang aku menulis ini, tulisan ini adalah bentuk dari belum mampunya aku untuk berbicara langsung denganmu. Bukan karena tiadanya keberanian, tapi memang belum Alloh halalkan kita untuk bercengkrama lebih jauh.
Sebagai lelaki normal, aku ingin bicara panjang lebar denganmu, membahas apapun yang pernah aku lalui dan berkisah tentang hal-hal yang mungkin baru kita ketahui. Tapi, seperti yang awal sudah ku katakan. Kita belum diperbolehkan untuk sampai di tahap itu. Jadi yang bisa ku lakukan saat ini adalah bersabar dan memantaskan diri terlebih dahulu sebelum meminangmu.
Aku ingat bagaimana pertamakali bisa sampai tahap ini, sekarang kita ada di posisi saling tunggu. Kamu menunggu dipinang, aku menunggu waktu untuk meminang. Bukan tanpa alasan aku menunda. Jujur aku ingin segera melakukannya, tapi beberapa pertimbangan harus aku pikirkan dengan matang-matang, Di sisi lain aku sudah bekerja dan memiliki penghasilan yang insyaallah cukup untuk kita hidup, tapi aku masih kuliah semester akhir. Bisa saja memang aku melakukannya sekarang, tapi dengan posisiku yang masih kuliah aku masih harus membutuhkan banyak biaya untuk diriku sendiri, akuj khawatir bila memaksakannya akan berdampak negatif ke kehidupan kita nanti, aku mohon maaf untuk ini.
Awal mula dari semua ini aku rasa murni karena orangtua kita tepatnya ibu kita yang saling bercanda mengenai kita. Kita gak ada hubungan apa-apa sebelumnya. Yang aku tau dari kamu cuma seorang anak perempuan kecil yang tinggal di sebuah perumahan di Cikarang. Ya, itu gambaran awalku rerhadapmu. Tapi seiring berjalannya waktu, ternyata apa yang dibercandakan orangtua kita berjalan menuju langkah serius, dari situlah aku mulai penasaran dan mencari tau tentang kamu. Aku gak tau harus cari informasi ke mana, tapi aku inget kita hidup di zaman informasi. Terlintas di pikiranku buat cari media sosial yang kamu punya. Bermula dari Twitter, Facebook, hingga Instagram, Jujur aja aku tau instagram kamu dari hasil stalking di FB, dan mulanya gak mau follow, cuma sedikit demi sedikit ku intipi. Tapi di suatu hari, akun kamu diprivate. Aku tau mungkin kamu sadar aku perhatikan. Dari situ barulah aku follow akun kamu.
Langsung dari situ kemudian aku dapat info mengenai memanah, ya aku memang mau mengikuti olahraga itu. Kebetulan kamu juga ikut ya? Ohya makasih ya waktu itu aku pernah minta nomor abangnya sahabat kamu, itu murni karena aku gak punya dan aku juga mau ikut panahan.
Ya, lalu di suatu hari setelah panahan aku mampir ke rumah kawanku yang ternyata kamu juga di situ. Seraya mempersilakanku masuk ia bilang "Inget gak Hik? Jundi nih temen kecil kita"
Agak nahan ketawa aku di situ, seandainya dia tau apa yang sedang terjadi diantara kita. Kemudian waktu berlalu sampai ketemu seminggu berikutnya, kita ketemu lagi. Aku mau sapa tapi aku belum berani. Cuma bisa sedikit curi-curi pandang.
Tepatnya kemarin hari terakhir kali kita ketemu, suasana hujan seolah mengisyaratkan kita harus berpisah lagi. Ya, gak lama setelah hujan, bahkan kondisi masih hujan kamu pulang tanpa jas hujan. Kamu tau? Aku khawatir😞 Kamu itu perempuan lho.. Setidaknya perhatikan hal-hal seperti itu. Bahaya.
Baru kemarin sih dari pertemuan terakhir kita, tapi rasanya . . .
Aku mohon maaf atas kelancangan nulis ini buat kamu, ini cuma curahan yang entah kamu baca atau tidak.
Semoga Alloh lancarkan jalan kita menuju pernikahan yaa, aamiin yaa robbal alamin
Baru kemarin sih dari pertemuan terakhir kita, tapi rasanya . . .
Aku mohon maaf atas kelancangan nulis ini buat kamu, ini cuma curahan yang entah kamu baca atau tidak.
Semoga Alloh lancarkan jalan kita menuju pernikahan yaa, aamiin yaa robbal alamin
